Sabtu, 04 April 2015

Xiaomi Rilis Mi Note Pro, Phablet dengan RAM 4 GB

BEIJING, KOMPAS.com - Secara mengejutkan, pada hari Kamis (15/1/2015), Xiaomi merilis dua smartphone Android secara sekaligus. Setelah memperkenalkan Mi Note, CEO Xiaomi Lei Jun juga memperkenalkan phablet lain bernama Mi Note Pro.

Wartawan KompasTekno, Reska K. Nistanto berkesempatan hadir dalam acara perkenalan dua perangkat tersebut di Beijing, Tiongkok.

Xiaomi Mi Note Pro hadir dengan bentang layar yang sama dengan Mi Note, yaitu 5,7 inci. Bedanya, dukungan resolusi Note Pro jauh lebih besar, QHD 2.560 x 1.440 piksel. Sementara, Mi Note mendukung resolusi Full HD 1.920 x 1.080 piksel.

Dari segi "jeroan", ia dipersenjatai dengan prosesor Snapdragon 810 64 bit octa-core dari Qualcomm dan chip grafis GPU Adreno 430. Kedua chip tersebut dikombinasikan dengan RAM sebesar 4 GB.

Media penyimpanan internal dari Mi Note Pro cukup besar. Perangkat tersebut memiliki ROM atau penyimpanan internal sebesar 64 GB.

Perangkat ini juga mendukung jaringan 4G LTE Cat 9 yang dapat mengunduh data dengan kecepatan hingga 450 Mbps.

Mi Note Pro sendiri akan dijual dengan harga 3.299 Yuan atau sekitar Rp 6,7 juta.
Continue reading Xiaomi Rilis Mi Note Pro, Phablet dengan RAM 4 GB

Pakai WebOS, Smartwatch LG Bisa Kendalikan Mobil

KOMPAS.com - Seperti dirumorkan sebelumnya, LG ternyata memang membuatsmartwatch berbasis WebOS. Keberadaan smartwatch itu terkuak dalam ajang konferensi pers Audi di Consumer Electronic Show (CES) 2015, Rabu (8/1/2015).
Smartwatch tersebut saat acara melingkar di lengan bos Audi Dr. Ulrich Hackenberg. Ia menggunakannya untuk memanggil mobil tanpa pengemudi yang sedang didemokan.
Bos Audi itu mengatakan smartwatch tersebut hanya purwarupa saja dan belum memiliki nama.

Setelah ditelusuri, dikutip KompasTekno dari Android Centralsmartwatch misterius tersebut terlihat menggunakan sistem operasi WebOS.
Saat dilihat lebih dekat, smartwatch ini memiliki sejumlah ikon dengan bentuk mirip antarmuka (user interface) besutan LG. Pada bagian Setting pun tercetak nama LG W.
WebOS tersebut dulunya dikembangkan oleh Palm dan dirancang sebagai sistem operasi ponsel. Pada 2010, Palm dibeli oleh HP.

Kemudian pada 2013, LG membeli WebOS dari HP. Pembelian tersebut termasuk paten, sejumlah karyawan dan source code-nya.
LG telah mengungkap bahwa mereka sedang mengerjakan WebOS untuk diadopsi dalamsmartwatch. Namun belum ada kabar lanjutan tentang wujud smartwatch tersebut, hingga Hackenberg memakainya untuk mengendalikan mobil Audi.
Continue reading Pakai WebOS, Smartwatch LG Bisa Kendalikan Mobil

Pegasus X002, Pesaing Redmi 1S dari Asus

KOMPAS.com - Redmi 1S besutan Xiaomi akan banyak mendapat hambatan dari kompetitor di pasar ponsel kelas entry level. Setelah Lenovo, kini giliran vendor asal Taiwan, Asus, yang bersiap menghadang melalui produk terbarunya, Pegasus X002.

Tidak jauh berbeda dari Redmi 1S, Pegasus X002 memiliki banderol harga yang murah, tetapi memiliki spesifikasi yang cukup tinggi.

Ponsel yang baru dirilis oleh Asus ini, seperti KompasTekno kutip dari PhoneArena, Rabu (24/12/2014), dijual dengan harga 799 yuan atau sekitar Rp 1,6 juta. Sebagai gambaran, Xiaomi Redmi 1S dijual dengan harga Rp 1,5 juta di pasar Indonesia.

Pegasus X002 dilengkapi layar sentuh berukuran 5 inci dengan dukungan resolusi 720 piksel. 

Ia ditenagai dengan prosesor 64-bit MT6732 1,5 GHz besutan Mediatek, RAM 2 GB, media penyimpanan internal berkapasitas 16 GB, dan baterai 2.500 mAh.

Di bagian belakang perangkat, Asus membenamkan kamera 8 megapiksel. Sementara, di bagian depan, terdapat kamera 5 megapiksel.

Pegasus X002 akan berjalan di sistem operasi Android 4.4 KitKat yang dipercantik dengan tampilan Asus Zen.

Pegasus X002 sudah bisa dipesan di Tiongkok mulai hari ini. 

Belum jelas apakah produk tersebut akan dipasarkan di luar Tiongkok atau tidak. Namun, bisa saja smartphone tersebut dijual di negara-negara tempat Xiaomi semakin populer, seperti Indonesia.
Continue reading Pegasus X002, Pesaing Redmi 1S dari Asus

Jumat, 03 April 2015

Gadget Premium dengan Harga Terjangkau

KOMPAS.com - Kuartal terakhir tahun 2014 dipenuhi dengan peluncuran gadget untuk segmen menengah dan bawah dengan rentang harga Rp 1 juta-Rp 3 juta. 

Yang sekarang menjadi buah bibir adalah gadget yang mendekati produk premium, tetapi dengan harga yang bisa bersaing dengan produk pemula. Kualitas bagus dengan harga terjangkau.

Produk seperti itulah yang digarap produsen lokal yang digandeng Google dalam memproduksi Android One. 

Inisiatif telepon seluler (ponsel) terjangkau dengan kualitas mendekati produk premium itu diperkenalkan oleh Wakil Presiden Senior Google Sundar Pichai, dalam acara Google I/O, pertengahan tahun lalu.

Adalah Mito dan Evercoss, dua merek ponsel lokal, yang mengakui sudah dipilih Google sebagai mitra dari Indonesia.

Di India, Google menggandeng Karbonn, Spice, dan Micromax untuk memproduksi ponsel dengan harga Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta dengan spesifikasi seperti prosesor empat inti dan dua lubang kartu SIM.

Keunggulan Android One selain harga yang terjangkau, adalah prioritas untuk pembaruan perangkat lunak untuk sistem operasi Android Lollipop.

”Produksi sudah berlangsung, semua dan akan diumumkan secara resmi oleh Google pada kuartal pertama tahun 2015,” kata Djanto Djojo, Chief Marketing Officer Evercoss, yang ditemui awal Desember.

Salah satu tujuan perusahaannya bergabung dengan program ini tentu mendongkrak penjualan ponsel Evercoss dan juga mendongkrak jumlah migrasi pengguna ponsel pintar.

Langkah serupa ditempuh Microsoft yang menggandeng produsen lokal Advan untuk meluncurkan tablet elektronik dengan sistem operasi Windows 8.1 dengan harga Rp 2 juta. Microsoft sengaja mengincar segmen menengah dan bawah dengan menghadirkan sabak elektronik berukuran 8 inci dan 9,8 inci.

”Selama ini, produk tablet elektronik dengan sistem operasi terkesan mahal. Hari ini, kami membawa produk tersebut ke sebanyak mungkin pengguna,” ujar Presiden Direktur Microsoft Indonesia Andreas Diantoro, di sela penandatanganan nota kesepahaman Microsoft dan Advan, Rabu (3/12/2014).

Business Group Head Microsoft Indonesia, Lucky Gani, menjelaskan, mereka ingin menghadirkan produk Microsoft bagi konsumen yang sudah terbiasa dengan ekosistem Windows, seperti komputer di kantor atau di rumah, dan mengincar pengguna baru.

Mengincar migran

Ada semangat yang sama dari berbagai langkah yang dilakukan secara terpisah ini: Mereka semua mengincar pasar baru, yakni para pengguna ponsel dengan fitur dasar untuk segera bermigrasi ke ponsel pintar.

Di luar gegap gempita ekonomi yang tercipta dari ponsel di Indonesia, penggunanya ternyata bukan mewakili mayoritas. Berbagai studi menyebut bahwa komposisi pengguna ponsel pintar tidak kurang dari 40 persen, sementara selebihnya masih setia dengan ponsel yang hanya bisa dipakai untuk menelepon atau mengirim layanan pesan singkat (SMS).

Gambaran yang sama bisa dijumpai dari salah satu operator telekomunikasi, yakni Telkomsel. Dari 139 juta pelanggan, 65 persen darinya adalah pengguna ponsel fitur dasar.

Mereka tidak ingin ketinggalan dengan merangkul 17 pemegang merek yang mewakili 95 persen ponsel yang diedarkan di Indonesia untuk menawarkan paket data khusus yang berlaku tiga bulan sejak diaktifkan.

Tujuannya adalah mengajak pengguna untuk tertarik menggunakan ponsel pintar dan akhirnya belanja data setelah sebelumnya hanya untuk panggilan telepon dan hanya memakai layanan pesan singkat.

Toko online, seperti Lazada, juga memanfaatkan fenomena ini dengan menjadi kanal penjualan ponsel Xiaomi dan sukses menjual 85.000 unit ponsel dalam waktu dua bulan.

Kerja sama tersebut dilanjutkan dan diperluas dengan tipe ataupun merek lainnya. ”Komposisi pengguna ponsel pintar dan ponsel fitur sederhana di Indonesia terbalik dengan di Tiongkok. Namun, kita sedang beranjak ke sana, menuju revolusi ponsel,” kata Magnus Ekbom, CEO Lazada Indonesia, yang dijumpai pada hari Jumat (5/12/2014).

Dia menerangkan, kemajuan teknologi pula yang membuat konsumen bisa menikmati ponsel dengan teknologi setahun yang lalu dengan harga seperempatnya.

Inilah yang membuat pasar ponsel premium dengan harga terjangkau akan melejit di tahun mendatang dan akan lebih sulit lagi menemui ponsel murah dengan kualitas buruk.
Continue reading Gadget Premium dengan Harga Terjangkau

Sony Diam-diam Perkenalkan Jam Tangan "e-Paper"

KOMPAS.com - Pada September, sebuah perusahaan bernama "Fashion Entertainments" memasang kampanye pengumpulan dana untuk pengembangan produk jam tangan berbasis e-paper.

Belakangan diketahui bahwa "Fashion Entertainments" tak lain merupakan perusahaan rekaan Sony yang dibuat untuk menyembunyikan identitas sebenarnya dari pembuat produk bersangkutan. Hal ini diungkapkan sendiri oleh Sony pada akhir minggu lalu.

Mengapa perlu repot-repot seperti itu? "Kami menyembunyikan nama Sony karena ingin melihat nilai sebenarnya dari produk ini, apakah akan ada permintaan untuk konsep yang bersangkutan," jelas seorang juru bicara proyek tersebut, seperti dikutip Kompas Teknodari The Wall Street Journal (2/12/2014).

Sony memang sedang berusaha melakukan diferensiasi di tengah ketatnya kompetisi pasar. Perusahaan Jepang itu tengah mencoba mengembangkan jam tangan dan dasi menggunakan material e-paper. 

CEO Sony Kazuo Hirai mendorong para pegawainya agar menelurkan ide-ide produk atau bisnis baru. Perusahaan kemudian akan memberi dukungan finansial untuk membantu merealisasikan ide yang muncul. 

Salah satu proyek yang muncul dari ide ini adalah Fes Watch bikinan "Fashion Entertainments" tadi. Ia adalah sebuah jam tangan pintar dari e-paper yang bisa mengubah penampilan berdasarkan gerakan tangan pengguna. Total terdapat 24 pilihan tampilan yang bisa dipilih secara manual.

Di samping jam tangan, bahan e-paper yang fleksibel ini nantinya bisa diaplikasikan ke produk-produk fashion lainnya.

Sony tidak mengungkapkan kapan Fes Watch akan benar-benar memasuki pasaran. Di situs pengumpulan dana, hanya disebutkan bahwa para pemberi dana bisa memesan dan menerima produk jam tangan itu pada Mei tahun depan.
Continue reading Sony Diam-diam Perkenalkan Jam Tangan "e-Paper"

OPPO Membuka Sesi Pre-Order R5

Jakarta – Tidak semua produsen smartphone dapat membuat smartphone dengan ketebalan dibawah 5 mm. Namun, OPPO Salah satu produsen terkemuka ponsel premium berhasil membuat smartphone dengan ketebalan 4.85 mm, R5.

Tidak hanya tipis, OPPO menyajikan hardware terkini pada perangkat ini. OPPO menyematkan prosessor Octa-core dari Qualcomm tipe MSM8939 dengan arsitektur 64 bit. Processor yang dikenal dengan nama snapdragon 615 ini memiliki kecepatan 1,5 Ghz pada masing – masing intinya. GPU Adreno 405 disematkan pada R5 untuk dapat menunjang aktifitas bermain game kelas berat.

Multitasking terasa lancar berkat 2 GB RAM yang ditanamkan OPPO pada R5. Untuk internalnya telah disematkan 16 GB sebagai ruang penyimpanan tanpa expansi. R5 juga menyematkan fitur USB OTG sebagai solusi penambahan memory. R5 dilengkapi dengan system operasi ColorOS 2.0 berbasis android 4.4 Kitkat.

Layar R5 memiliki penampang seluas 5.2 inch dengan resolusi Full HD 1080p (1920x1080). Kerapatan pixelnya 423 pixel per inch. Layarnya sendiri berjenis AMOLED yang kaya warna. R5 mengusung kamera utama 13 MP Stacked CMOS dengan diafragma F2.0. 

Sedangkan kamera depannya 5 MP dengan diafragma yang sama. Keseluruhan sistem kamera R5 telah disertifikasi oleh Schneider Kreuznach, pengembang lensa asal Jerman.

R5 dilengkapi baterai sebesar 2.000 mAH bersifat non-removable. Baterai ini cukup untuk membuat R5 bertahan seharian. Selain itu R5 dilengkapi VOOC Rapid Charge yang merupakan solusi charger cepat khas OPPO. VOOC menjamin dalam 30 menit pengisian daya dapat menghasilkan tingkat kepenuhan baterai sebesar 75%.
OPPO R5 Premiere package dilepas Rp.6.499.000,- selama masa pre-order. 

Harga tersebut sudah termasuk VOOC powerbank dan exclusive case. Pre–order OPPO R5 dapat dilakukan melalui re-seller online resmi produk OPPO, https://www.ofanstore.co.id/mulai dari 24 November sampai 14 Desember 2014.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai OPPO R5 silahkan mengunjungi halaman resmiwww.oppomobile.co.id atau melalui fanpage facebook OPPO Indonesia dan twitter@OPPOIndonesia. (adv)
Continue reading OPPO Membuka Sesi Pre-Order R5

Kamis, 02 April 2015

Tarif Broadband Indonesia Harus Turun

DENPASAR, KOMPAS.com – Pada awal November 2014 telah digelar National Broadband Symposium 2014, sebagai tindak lanjut dari program jaringan pita lebar. 

Ashwin Sasongko Sastro Subroto, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, kesepakatan dalam National Broadband Symposium itu pembangunan jaringan pita lebar harus bisa menurunkan tarif akses broadband. 

“Harus kompetitif dengan negara-negara regional. Dan Indonesia, saat ini untuk data-data besar, bukan yang paling murah,” kata dia ditemui wartawan, Jumat (14/11/2014).

Simposium tersebut menyambut Peraturan Presiden tentang pengembangan jaringan pita lebar (broadband) yang pada awal September 2014, disahkan oleh Presiden kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Proyek ini juga menjadi salah satu prioritas dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3EI). 

Ashwin menerangkan saat ini, pola jaringan internet Indonesia sebagian besar masuk ke Batam kemudian ke Singapura. Mengapa demikian? Menurut Ashwin, akses broadband Singapura jauh lebih kompetitif. 

Menurut Ashwin, setidaknya target pengembangan jaringan pita lebar bisa membuat Indonesia sekompetitif Malaysia dan Singapura. 

“Sekarang kalau terbuka (pola jaringan) begini ya orang ke Singapura tho? Kita maunya (target) sekompetitif Singapura (tarifnya),” tutur Ashwin. 

Namun, untuk mencapai hal tersebut, Ashwin mengaku belum tahu target pemerintah, kapan hal itu bisa terealisasi. 

“Ini kita mesti nunggu pemerintah lagi. Seberapa besar APBN kita bisa diarahkan untuk pembangunan itu. Revisi APBN kan belum jadi. Kita berharap pembangunan IT bisa segera sampai ke daerah-daerah,” pungkas komisaris PT KAI (Persero) itu. 

Sebagai informasi, World Economic Forum 2011 menyebutkan, harga akses pita lebar (harga koneksi 512 Kbps) pada tahun ini sebesar Rp 600.000 per bulan. 

Artinya, dengan pendapatan penduduk sekitar Rp 2,57 juta per bulan, maka harga koneksi pita lebar Indonesia masih sebesar 23 persen. 

Padahal, menurut International Telecommunication Union (ITU), tarif pita lebar yang mendekati ideal, sebaiknya tidak lebih dari 5 persen pendapatan penduduk per bulan.
Continue reading Tarif Broadband Indonesia Harus Turun